Hikmah Bersepeda Ramadhan


Beberapa hari belakangan, setiap pukul 17.00 saya sudah bersiap bercelana pendek, kaus dan topi. Ya, menjelang buka puasa, sekarang, bila tidak aktifitas dinas kantor,saya menyempatkan diri mengayuh sepeda. Awalnya, bos saya memberikan satu unit sepeda yang tidak bermerk dan lama tak dipakai dari baru, katanya.Lumayan..buat sekadar olahraga, setelah hampir 3 tahun tak pernah melatih otot-otot badan

Parkir lama, membuat badan saya dan juga sepeda terasa berat. komstir godek, jok keras, dan stiker yang tak berseni, membuat tangan segera terampil menyopoti stiker, menukar jok baru sekaligus sedikit merehab beberapa bagian, termasuk komstir. Bersama karib yang sudah memiliki unit sepeda branded, dan menurut orang awam seperti saya sudah full spek, gowesan pertama menuju kawasan tebet, dari pancoran tempat saya. Agak kikuk juga, bersepeda adalah aktifitas terakhir saya tatkala SMP, 1991. Awal-awal masih terasa limbung mengendalikannya, termasuk saat macet di lampu merah pancoran, saya ikut2an mengantri hingga seorang pengendara sepeda motor menegur saya. “Mas, naik aja ke trotoar!” Ya..ampun..iya ya, ringan banget ya sepeda, jauh sekali ketika saya harus bersusah payah mendirikan motor trail saat terjerembab di lumpur beberapa tahun silam. Jalanan Tebet pun diacak-acak termasuk kawasan tebet Utara yang terkenal karena memiliki angle yang ciamik dengan tongkrongan anak-anak London School-nya…HIngga akhirnya terdampar di Warmo untuk berbuka puasa. Pulang menuju Pancoran adalah tantangannya, perut penuh adalah sebabnya plus nafas yang sudah tersengal-sengal.

Akhirnya,rute Tebet-Buncit-Mampang menjadi rute saya di hari-hari berikutnya, mulailah spirit olahraga saya sedikit demi sedikit meningkat, buka puasa nikmat, badan segar setelah mandi. Alhamdulillah….Sempat terbersit pikiran, saat kongkow di Menteng dengan penunggang sepeda aliran beach cruiser lebih seru dan gaya tentunya. Jok dan setang yang lebar, minimalis…Tapi buang dulu deh, ini buat olahraga kan, simpan dulu buat nanti.

Hanya sempat empat kali saya menaiki sepeda tersebut, hingga salah satu bos saya yang lain berjanji akan menghibahkan sepedanya, dikredit aja dah biar ringan. Saya berpikir sejenak, buat apa ya, sepeda mahal-mahal, toh tetep aja digowes dan cape. Polygon Broadway berkelir merah , Senin pagi itu sudah terparkir. jauh memang kondisinya dengan yang terdahulu. Meskipun bukan kategori sepeda yang hi-end, tapi cukuplah pikir saya buat pemula, sepeda dengan suspensi depan belakang cukup mewakili keinginan saya memiliki sepeda modern, meski penahan roda masih teromol.

Kini, tiap sore, saya selalu menantikan datangnya pukul 17.00 WIB, waktu yang tepat selama satu jam untuk menggerakan otot. Masih kaku memang, belum ketahuan selahnya, kapan harus over gear, gimana teknbik mengayuh di tanjakan. Saya jalanin aja dulu apa adanya, yang penting berkeringat..Beberapa teman sudah meracuni dengan berbagai aksesori, ganti dah tuh setang, ban, rem dan lain-lain. Yang lebih ekstrem, ayo dong main ke tanah! seru sih, cuma nanti aja kali ye..belum pol juga main di aspal..
Makanya, stelan saya pun masih standar kompleks kata orang-orang. Celana pendek, sepatu, topi plus headseat bluetooth untuk menemani saya menikmati musik menyusuri kawasan Pancoran dan sekitarnya. Mungkin setelah lebaran, kalau nggak sibuk, rencananya akan memekarkan jangkauan ke area yang lebih jauh..Mudah2an..
Meski belum terasa benar efeknya, namun kini setelah berbuka puasa, badan seolah kembali segar. dan yang membuat saya tersipu, seorang rekan kantor bilang, Mas perutmu kecilan sekarang!”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s