Catatan dari Djogja International Classic Bike Show 2012

Usai sudah gelaran Djogja International Classic Bike Show (DICBS) 2012 di JEC, 22-23 Juni kemarin. Hajatan milik Motor Antique Club Yogyakarta ini meninggalkan kesan bagi ribuan pengunjung yang hadir termasuk klub dan komunitas motor klasik, classic bike enthusiast, pebisnis dan sponsor pendukung. Di tengah musim liburan anak sekolah, DICBS menjadi alternatif tontonan yang atraktif sekaligus edukatif. Dampak dari event ini pun terasa terutama dari sisi pariwisata, ekonomi menggeliat dari tingkat hunian hotel dari kelas bintang hingga melati dan mungkin juga transaksi penghibur lainnya ikut naik.

Yang menarik adalah dukungan Dinas Pariwisata Yogyakarta terhadap event ini dengan menjadikan motor klasik sebagai bagian ikon pariwisata Jogja termasuk tentunya pihak Keraton yang ingin menjaga kelestarian motor klasik sebagai asset wisata dan budaya nasional.”Kami menginginkan adanya regulasi dari pemerintah untuk mengatur keberadaan motor klasik ini sebagai bagian dari sejarah sehingga bisa bermanfaat antara lain dalam mendorong pariwisata Yogyakarta,” ujar Tazbir Abdullah, SH, M.Hum, Kepala Dinas Pariwisata Provonsi D.I Yogyakarta yang membacakan pesan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada acara pembukaan.

Oiya, selain Dinas Pariwisata, Dinas Pendapatan Daerah, menurut Lulut Wahyudi, ketua panitia penyelenggara DICBS, turut memberikan dukungan terhadap event ini. Nah, tuh kalau kita bisa lobi ke pemerintah, klub pun bisa didukung dinas. Ada kok mereka anggarannya untuk memajukan daerah. Tinggal cara lobinya itu yang kita harus belajar banyak…  Dari pada mahal-mahal ikut pameran di luar negeri, mending sponsori event motor klasik dan undang mereka datang. Event ramai, PAD meningkat, jabatan promosi pun terbuka lebar.

Slalom Test Motor Klasik, Kontes Motor Klasik, Atraksi Motor Klasik, Tour Wisata Motor Klasik, Photo Kontes, serta sesi photo monumental 500 motor antik di Tugu Yogyakarta adalah rangkaian acara yang dihelat MAC Jogja tahun ini. Embel-embel internasional, adalah bukti bahwa mereka ingin keberadaan motor klasik di Indonesia mendapat pengakuan dunia, baik dalam menampilkan eksotisme restorasi hingga komunitas penggemar yang solid.” Kita jelas-jelas menolak keberadaan geng motor seperti dari  Australia yang bisa mengubah image bikers Indonesia menjadi brutal dan kriminal. Lewat acara ini, kita bersatu sebagai penggemar motor klasik, bersilaturahmi sekaligus melestarikan dari kepunahannya dan ramai-ramai untuk menghidupkan kembali motor bangkai. Hanya, ya kita juga tolong diperhatikan oleh pemerintah, kita mau kok bayar pajak, asal legalitasnya benar-benar diatur pemerintah jangan malah ditilang kalau di jalan, gara-gara karena tidak ada surat,” semangat Indro Warkop yang didapuk menjadi Duta kehormatan DICBS.

Seorang biker asal Malaka, Badrol dari klub Banjaros  Malaysia yang turut menghadiri gelaran ini menyatakan rasa salutnya pada MAC Jogja yang bisa membuat acara classic bike show meriah dan diapresiasi oleh semua komunitas motor klasik.”Di tempat kami tidak seramai ini, motor kontesnya juga seronok , jarang sekali ditemui di Malaka. Selamat untuk MAC Jogja! Ujar pemilik Triumph Speed Twin, Sportster dan beberapa koleksi motor Inggris lainnya.Bule-bule asal New Zealand, Australia pun terlihat menikmati gelaran sambil memanggul knalpot fish tail yang ditebus dari lapak pedagang suku cadang motor antik, serta tidak lupa memegang botol bir. Kelupaan juga, DICBS juga disiarkan langsung selama 2 jam full di Jogja TV saat panggung diisi oleh jagoan Jogja, Shaggy Dog

Sponsor sekelas Pertamina pun tertarik mengucurkan dananya untuk DICBS karena menurutnya memiliki keseriusan untuk melestarikan wisata dan pastinya mengumpulkan orang banyak ya pak untuk awareness.”Konsep heritage yang dikemas dalam classic bike show ini sejalan dengan keberadaan Pertamina yang sudah sejak tahun 1960-an turut melumasi kendaraan. Ini kebanggaan kita karena sejarah perjalanan otomotif ada di antara motor-motor klasik ini,” beber Alfareda, Sales Region Manager DIY dan Jawa Tengah, PT Pertamina Persero. Sedangkan Dji Sam Soe, yang memiliki program Dji Sam Soe Festival Indonesia menuliskan dalam rilisnya bahwa Jogja International Classic Bike Show memiliki salah satu visi dan misi yang sejalan dengan Dji Sam Soe, yakni mendukung dan melestarikan seni budaya dan pariwisata Indonesia.Dji Sam Soe turut mendisplay motor klasik di antaranya BSA M20 di boothnya, dan para pengunjung dewasa pun bisa mengabdikan momen tersebut dengan berfoto bersama.

Lalu, apa yang dihasilkan dari event tersebut? Menurut Lulut Wahyudi, dengan makin semaraknya event motor di Jogja tentu akan menambah khasanah sekaligus mengukuhkan Jogja semakin istimewa dengan kreatifitas event-event bikers.”Jogja punya Joga Bike Rendezvous yang sudah lama menjadi agenda tahunan, kemudian ditambah garapan MAC ini, selanjutnya nanti ada Kustomfest Oktober mendatang. Ini adalah potensi besar yang lagi-lagi ujungnya ke pariwisata, karena itu saya selalu berkordinasi dengan mereka untuk tetap berperan aktif mendukung kegiatan kami,” ujar owner Retro Classic Cycles ini. Meski demikian, tiap-tiap event memiliki diferensiasi dan kekhasan masing-masing agar tetap diminati dan tidak membosankan.” Total transaksi merchandise saja bisa tembus Rp 200 juta, belum lagi dari tiket sekitar Rp 45 jutaan. Menurut kami, ini sudah luar biasa bagi event perdana sekelas komunitas,” sambungnya lagi.

2 Comments

Filed under event bikers, news

2 responses to “Catatan dari Djogja International Classic Bike Show 2012

  1. Pingback: Wisata Minat Khusus Menjadi Tren | makanenak.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s